Oing
adalah seekor anak babi yang sangat gemuk. Badannya berwarna pink menggemaskan.
Semua binatang yang melihatnya merasa sangat gemas. Oing sebenarnya anak yang
baik hati dan ramah. Dia mempunyai banyak teman. Tapi, ada satu sifat Oing yang
tidak disukai teman-temannya. Yaitu, Oing sangat rakus. Oing selalu memakan
semua makanan yang dia temui. Bahkan, dia tak segan-segan menghabiskan makanan
milik temannya.
Setiap
kali melihat temannya membawa makanan, Oing selalu meminta makanan temannya.
Dan kalau diizinkan, Oing bukannya meminta sedikit, tapi langsung menghabiskan
semuanya. Itu yang membuat teman-temannya kesal. Tapi, Oing tak peduli. Meskipun
teman-temannya sering mengingatkannya bahwa sifatnya itu tidak baik dan meminta
Oing merubah sifatnya, tetap saja Oing tak mau merubah sifatnya. Oing merasa
tak ada yang salah dengan sifatnya.
“Oing,
kalau kamu terus makan seperti itu, nanti kamu bisa meletus lho!” ucap Miaw, si
kucing kecil teman Oing.
Tapi
Oing malah menertawakan peringatan Miaw. Mana mungkin, binatang bisa meletus
hanya gara-gara banyak makan. Pasti Miaw mengada-ada.
“Kalau
kamu rakus seperti itu, nanti kamu bisa melembung seperti balon,” ucap Yiho si
keledai.
Lagi-lagi
Oing hanya menertawakan ucpan Yiho. Meletus? Melembung? Mana mungkin bisa
seperti itu. Pikir Oing. Teman-temannya pasti hanya mengada-ada.
Hari
itu, Bu Kijang mengadakan pesta kebun untuk anak-anak. Bu Kijang sangat
menyukai anak-anak. Tapi sayang, Bu Kijang tidak memiliki seekor anak pun.
Makanya, Bu Kijang senang mengundang anak-anak untuk datang ke rumahnya dan
memakan kue-kue buatannya yang terkenal sangat lezat.
Semua
anak-anak di hutan di undang ke pesta itu. Tak terkecuali Oing. Anak-anak
sangat senang. Karena, pesta di rumah Bu Kijang pasti sangat menyenangkan dan
tentu saja, banyak dihidangkan kue-kue lezat. Oing berangkat ke rumah Bu Kijang
bersama teman-temannya.
“Oing,
disana nanti kau tidak boleh rakus. Kau harus menghormati Bu Kijang. Kita harus
berbagi makanan,” pesan Kiki si kuda kecil.
“Makanan
di rumah Bu Kijang kan, banyak. Kita semua pasti kebagian,” kilah Oing.
Teman-temannya
tidak membantah lagi. Percuma! Mereka bicara apapun, Oing tidak akan
mendengarkan.
Dan
benar saja. Begitu sampai di rumah Bu Kijang, Oing langsung menyerbu meja makan
yang penuh dengan tumpukan makanan. Untung saja Bu Kijang sangat baik. Sehingga
dia tidak keberatan atau merasa terganggu dengan sikap Oing. Tapi, dia tetap
mengingatkan Oing untuk makan pelan-pelan saja.
“Pelan-pelan
saja Oing, nanti kamu tersedak,” ujar Bu Kijang mengingatkan.
“Tidak
apa-apa Bu, sudah biasa,” balas Oing dengan mulut penuh.
“Oing,
nanti kamu meletus lho!” seru Miaw kurang suka.
“Nanti
kamu melembung seperti balon!” Yiho menambahkan.
“Hahahaha…
kalian mengada-ada…! Mana mungkin bisa seperti itu,” sahut Oing sambil terus
memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Teman-temannya
dan Bu Kijang hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Oing. Memang keras
kepala anak itu.
Tiba-tiba,
suatu keanehan terjadi. Tubuh Oing tiba-tiba terus bertambah bulat. Tapi, Oing
tak menyadarinya dan terus saja memakan semua makanan yang ada.
“Oing,
lihat! Tubuhmu membesar! Sebentar lagi kau akan meletus!” seru Miaw panik.
“Jangan
bercanda Miaw! Itu tidak mungkin!” balas Oing.
“Miaw
benar Oing, lihatlah tubuhmu!” Bu Kijang berseru dengan panik.
Oing
melihat tubuhnya. Benar! Ia memang bertambah bulat. Tapi, itu mungkin hanya karena
terlalu banyak makan. Tidak mungkin dia akan meletus atau melembung. Oing tak
peduli dengan perubahan tubuhnya. Dia terus memasukkan makanan ke dalam
mulutnya. Dan tubuh Oing semakin membulat seperti balon.
“Oh,
tidak! Oing akan melembung! Dia akan melayang seperti balon!” seru Yiho.
“Hentikan
makanmu Oing!” seru Kiki panik.
Terlambat!
Kini tubuh Oing sudah membulat sangat besar. Yang dikhawatirkan Kiki menjadi
kenyataan. Perlahan, tubuh Oing melayang. Semakin lama semakin tinggi.
“Teman-teman…!
Apa yang terjadi…? Tolong aku…!!” teriak Oing panik.
Teman-temannya
dan Bu Kijang berusaha menggapai Oing. Tapi, tubuh Oing terus melayang semakin
tinggi. Semua binatang di hutan yang melihat, berusaha menolong Oing. Tapi, tak
satupun yng mampu menggapai tubuh Oing. Oing terus melayang semakin tinggi,
hingga tubuhnya tak terlihat lagi.
Oing
yang malang. Karena terlalu rakus, tubuhnya sampai melembung dan melayang.
Semoga suatu saat, Oing akan bisa turun kembali. Mungkin jika persediaan
makanan di perutnya sudah habis. Ya, mungkin saja.
~~~
Cepi
R. Dini [KucingPipush]
0 komentar:
Posting Komentar