Rabu, 01 Agustus 2012

Babi Yang Rakus

Oing adalah seekor anak babi yang sangat gemuk. Badannya berwarna pink menggemaskan. Semua binatang yang melihatnya merasa sangat gemas. Oing sebenarnya anak yang baik hati dan ramah. Dia mempunyai banyak teman. Tapi, ada satu sifat Oing yang tidak disukai teman-temannya. Yaitu, Oing sangat rakus. Oing selalu memakan semua makanan yang dia temui. Bahkan, dia tak segan-segan menghabiskan makanan milik temannya.
Setiap kali melihat temannya membawa makanan, Oing selalu meminta makanan temannya. Dan kalau diizinkan, Oing bukannya meminta sedikit, tapi langsung menghabiskan semuanya. Itu yang membuat teman-temannya kesal. Tapi, Oing tak peduli. Meskipun teman-temannya sering mengingatkannya bahwa sifatnya itu tidak baik dan meminta Oing merubah sifatnya, tetap saja Oing tak mau merubah sifatnya. Oing merasa tak ada yang salah dengan sifatnya.
“Oing, kalau kamu terus makan seperti itu, nanti kamu bisa meletus lho!” ucap Miaw, si kucing kecil teman Oing.
Tapi Oing malah menertawakan peringatan Miaw. Mana mungkin, binatang bisa meletus hanya gara-gara banyak makan. Pasti Miaw mengada-ada.
“Kalau kamu rakus seperti itu, nanti kamu bisa melembung seperti balon,” ucap Yiho si keledai.
Lagi-lagi Oing hanya menertawakan ucpan Yiho. Meletus? Melembung? Mana mungkin bisa seperti itu. Pikir Oing. Teman-temannya pasti hanya mengada-ada.
                                                           
Hari itu, Bu Kijang mengadakan pesta kebun untuk anak-anak. Bu Kijang sangat menyukai anak-anak. Tapi sayang, Bu Kijang tidak memiliki seekor anak pun. Makanya, Bu Kijang senang mengundang anak-anak untuk datang ke rumahnya dan memakan kue-kue buatannya yang terkenal sangat lezat.
Semua anak-anak di hutan di undang ke pesta itu. Tak terkecuali Oing. Anak-anak sangat senang. Karena, pesta di rumah Bu Kijang pasti sangat menyenangkan dan tentu saja, banyak dihidangkan kue-kue lezat. Oing berangkat ke rumah Bu Kijang bersama teman-temannya.
“Oing, disana nanti kau tidak boleh rakus. Kau harus menghormati Bu Kijang. Kita harus berbagi makanan,” pesan Kiki si kuda kecil.
“Makanan di rumah Bu Kijang kan, banyak. Kita semua pasti kebagian,” kilah Oing.
Teman-temannya tidak membantah lagi. Percuma! Mereka bicara apapun, Oing tidak akan mendengarkan.
Dan benar saja. Begitu sampai di rumah Bu Kijang, Oing langsung menyerbu meja makan yang penuh dengan tumpukan makanan. Untung saja Bu Kijang sangat baik. Sehingga dia tidak keberatan atau merasa terganggu dengan sikap Oing. Tapi, dia tetap mengingatkan Oing untuk makan pelan-pelan saja.
“Pelan-pelan saja Oing, nanti kamu tersedak,” ujar Bu Kijang mengingatkan.
“Tidak apa-apa Bu, sudah biasa,” balas Oing dengan mulut penuh.
“Oing, nanti kamu meletus lho!” seru Miaw kurang suka.
“Nanti kamu melembung seperti balon!” Yiho menambahkan.
“Hahahaha… kalian mengada-ada…! Mana mungkin bisa seperti itu,” sahut Oing sambil terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Teman-temannya dan Bu Kijang hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Oing. Memang keras kepala anak itu.
Tiba-tiba, suatu keanehan terjadi. Tubuh Oing tiba-tiba terus bertambah bulat. Tapi, Oing tak menyadarinya dan terus saja memakan semua makanan yang ada.
“Oing, lihat! Tubuhmu membesar! Sebentar lagi kau akan meletus!” seru Miaw panik.
“Jangan bercanda Miaw! Itu tidak mungkin!” balas Oing.
“Miaw benar Oing, lihatlah tubuhmu!” Bu Kijang berseru dengan panik.
Oing melihat tubuhnya. Benar! Ia memang bertambah bulat. Tapi, itu mungkin hanya karena terlalu banyak makan. Tidak mungkin dia akan meletus atau melembung. Oing tak peduli dengan perubahan tubuhnya. Dia terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Dan tubuh Oing semakin membulat seperti balon.
“Oh, tidak! Oing akan melembung! Dia akan melayang seperti balon!” seru Yiho.
“Hentikan makanmu Oing!” seru Kiki panik.
Terlambat! Kini tubuh Oing sudah membulat sangat besar. Yang dikhawatirkan Kiki menjadi kenyataan. Perlahan, tubuh Oing melayang. Semakin lama semakin tinggi.
“Teman-teman…! Apa yang terjadi…? Tolong aku…!!” teriak Oing panik.
Teman-temannya dan Bu Kijang berusaha menggapai Oing. Tapi, tubuh Oing terus melayang semakin tinggi. Semua binatang di hutan yang melihat, berusaha menolong Oing. Tapi, tak satupun yng mampu menggapai tubuh Oing. Oing terus melayang semakin tinggi, hingga tubuhnya tak terlihat lagi.
Oing yang malang. Karena terlalu rakus, tubuhnya sampai melembung dan melayang. Semoga suatu saat, Oing akan bisa turun kembali. Mungkin jika persediaan makanan di perutnya sudah habis. Ya, mungkin saja.
~~~
Cepi R. Dini [KucingPipush]

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates